Selasa, 17 Maret 2009

Adakah Aku diantara yang Terpilih?


Was was ada di bilik hati, khawatir..jangan-jangan saya tidak terpilih, atau tersentuh radar Surveyor, minimal.. ada sedikit kodong namaku, begitu kira-kira expresi jiwa, kata hati para caleg menjelang pemilu ini dilaksanakan.
Yang dulu tersenyum di kanvas baligho. kini termenung, sedih. kenapa namaku tidak terlihat dilembar survey? kenapa? 
sudah berapa banyak uang yang terbuang. sudah berapa kali hati saya tersinggung karena ditolak saat sosialisasi.
sudah berapa kali saya marah karena teman yang saya harapkan, malah jadi tim sukses calellg lain?

Kamis, 12 Maret 2009

Marah


Pernahkah anda marah?
Marah adalah expresi hati. Bagian dari jiwa.
Tapi kalau anda marah coba dikalkulasi. di hitung, dievaluasi.
Seorang anak yang sangat emosional, oleh Bapaknya diperintahkan. Bahwa setiap dia marah
sang anak harus menancapkan paku di dinding kayu. Marah hari ini sekali. berarti harus menancapkan pakunya di dinding satu kali, begitu seterusnya.
Dalam satu bulan sang anak dapat menancapkan pakunya sebanyak empat puluh . berarti dia sudah marah kepada orang, kepada adik atau temannya dalam bulan itu sebanyakjumlah paku yang ditancapkannya.
"anakku, coba buka paku yang telah engkau tancapkan!" perintah Ayah.
Sang anakpun membuka. " Kamu bisa membuka kembali paku itu tapi tidak bisa mengembalikan kayu tersebut seperti semula.

Kamis, 05 Maret 2009

Ibu

Seorang bocah berumur 6 th. menatap karangan bunga di depan etalase sebuah Supermarket. Dia ingin sekali mempersembahkan bunga itu kepada ibunya yang seminggu lalu berpisah, tapi tak seserpun uang yang dimilikinya. 
Nampak seorang lelaki setengah baya yang memperhatikan tingkah anak ini, orang ini mendekat. Komunikasi. Dan akhirnya bunga itu dibelikan khusus untuk si bocah perempuan ini.
" Untuk siapa nak? bunga ini", tanya sang Bapak yang dermawan ini.
" untuk ibuku!" tanpa ekspresi. "Ayo Bapak antarkan menemui ibumu", menawarkan kebaikannya kembali. Sang bocah girang. 
Mereka berdua kemudian menuju ke tempat dimana ibu bocah ini berada. Tempat yang ada diluar perkiraan sang Dermawan. Pemakaman Umum.Sang Bocah meletakkan karangan bunganya , pas , diatas timbunan tanah yang masih basah. Sebuah kuburan Ibunya yang tercinta.
Tanpa banyak tanya. Tiba-tiba kesadaran Bapak itu seakan hidup, bahwa dia juga punya Ibu yang sudah lama terlupakan, tak pernah dikunjungi, dan masih hidup di kampung. 
Tiba-tiba kesadaran itu membawa orang ini berlari, menangis , berteriak, .." Ibuuuu," saya telah melupakanmu. Maafkan.